Sajak Cinta


Mendefinisikan cinta memang bukan perkara mudah...
Karena makna cinta hanya dapat dipahami oleh mereka yang merasakannya...
terkadang cinta bisa menjelma menjadi berbagai rupa...
dari sebongkah karang di laut hingga semerbak wangi sekuntum bunga...
banyak lagu tercipta, bercerita tentang cinta...
namun tetap kan sulit tuk mendefinisikannya...
karena cinta terdefinisi oleh cinta itu sendiri...

Cinta…
cintalah yang warnai dunia...
cinta tak sekedar rasa...
namun ia merupakan fitrah manusia...

Cinta hadirkan banyak cerita...
ada kalanya ia hadirkan cerita bahagia...
namun tak jarang pula ia hadirkan cerita duka lara...

Cinta bukan kata benda...
bukan juga kata sifat yang tiba-tiba ada...
namun cinta adalah kata kerja...
yang harus terus diupayakan dengan kesungguhan jiwa...

Ketika cinta datang menyapa...
janganlah engkau siakan ia...
karena bisa saja kau kan menyesal nantinya...

Cinta....ya...Cinta....
Kekuatannya tak ada yang menduga...
karenanya manusia biasa bisa menjelma bak seorang pujangga...

iringilah Cinta dengan keimanan dan rasa Cinta pada-Nya...
maka kan kau dapati dari cinta itu sebuah bahagia...
bahagia yang tak hanya sementara dan kesemuan semata...
Selengkapnya...

Senandung Rindu dalam Rinai Hujan


Dingin menyergap kala langit kan turunkan hujan
Hembusan angin kala itu seakan membawa kembali sejumput kerinduan
Kerinduan yang coba kutepiskan
Namun apalah daya, karena kuhanyalah seorang insan

Perlahan rintik hujan basahi sang bumi
Damai diri menikmati harmoni alam ini
Seiring api harapan yang senantiasa terangi ruang hati
Bersamanya terus bergelora azzam dalam diri

Hujan kini terhenti
tinggalkan tetes-tetes air diranting pepohonan
sekilas kulihat mawar merah dihalaman sana
ingin rasanya kupetik mawar merah yang indah nan menawan
dan kuberikan padamu duhai perempuanku

Namun sejenak ku berpikir…
Bukan..bukan hanya mawar merah
lebih dari itu, ingin kusertakan untukmu Al-qur’an dari mekah
yang kan iringi cinta ini kelak hingga merekah dan bersemi indah
dalam iringan ridho dan balutan barokah

apalah artinya mawar itu tanpa senyum manismu?
apalah artinya mawar itu tanpa lembut tutur katamu?
apalah artinya mawar itu tanpa indah tatap matamu?
apalah artinya mawar itu tanpa hangatnya kasih sayangmu?

Dinda.. mawar itu kan berarti dan nampak lebih indah dan mewangi
saat kau ada disisi tuk temani diri arungi hari
menggapai keridhoan dan barokah Ilahi Robbi…


Jakarta 22-11-2009
seiring dingin yang menyergap, kerinduan itu semakin meresap



Selengkapnya...

Belajar ketulusan dari Ibu Warung Ijo...

Rabu 18 November 2009
Siang ini ketika kubuka account Facebookku, di halaman Beranda kulihat teman Facebookku yang juga adik kelas waktu kuliah D1 STAN di jogja dulu mengupload beberapa foto, dimana di foto tersebut terpampang wajah seorang ibu yang sangat familiar bagiku, seorang ibu pemilik warung makan di dekat kampus BDK III Yogyakarta yang sangat baik kepada kami -para mahasiswa STAN-, Ibu warung Ijo begitu ku menyebut beliau, karena warung sederhananya bercat warna hijau. Banyak diantara kami yang sering sarapan dan makan siang di warung beliau, betapa tidak, sudah nasi dan lauknya boleh mengambil sendiri -yang artinya sebanyak apapun, itu terserah kita- dengan harga miring pula, ketika pertama makan disana, masih ingat saya, ketika itu, saya dan beberapa teman jogging, disekitar desa Purwomartani, Kalasan, dan sepulang jogging, kami mampir ke warung beliau yang saat itu beliau berjualan tidak di warung tetapi di depan rumahnya, yang beliau jual saat itu adalah nasi kuning, pada saat itu -saat ketika keprihatinan begitu lekat dengan saya- makan nasi kuning adalah makanan yang jarang saya konsumsi, jadi menjadi sebuah makanan yang spesial. Alangkah kagetnya ketika akan membayar, dan saya tanya ”berapa bu?” beliau menjawab “seribu mas”, lalu saya lanjutkan pertanyaan saya “klo tambah gorengan 2 berapa?” sang ibu menjawab “klo gorengannya seribu 3 mas”…Ya Alloh…murah sekali ibu ini menjual makanan, walhasil saya dan beberapa teman patungan untuk membeli gorengan, jadi pagi itu untuk sarapan saya hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 1.500 untuk satu porsi Nasi Kuning sudah sekalian orek tempe dan telur dadarnya -yang menurut saya merupakan porsi besar, karena nasinya banyak- serta 2 tempe goreng. Sejak saat itulah saya dan beberapa teman menjadi pelanggan warungnya. Bahkan kalau untuk sarapan saya dan beberapa teman harus cepat-cepat menuju warungnya karena ada rombongan teman kami -yang kosnya jauh dari warung ibu ini- juga yang bungkus, dan bungkusnya tidak hanya untuk dirinya tetapi untuk teman satu kos, jadi sekali beli bisa 9-10 bungkus. Ah…kenangan itu, sungguh indah terasa. Sekedar informasi bahwa makan di warung Ibu warung Ijo dengan menu Nasi, sayur, 2 tempe, kita hanya merogoh kocek sekitar Rp 1.500 -itu nasi dan sayurnya ambil sendiri lho- ditambah jeruk anget atau es jeruk seharga Rp 500 -sudah kondisi tahun 2006-, bahkan yang mencengangkan lagi ketika ada Pendaftaran Ujian Saringan Masuk STAN di BDK III Jogja, ketika warung lain meniakkan harga, ibu warung ijo ini masih member harga miring kepada kami -mahasiswa STAN-.

Dan berdasarkan hasil wawancara singkat adik kelas saya dengan beliau, ketika ditanya kenapa jualannya kok murah banget, beliau menjawab (dalam bahasa jawa tentunya) “Oh,gini,kita semua kan bersaudara ,saudara seiman,emak cuma pingin bantu anak2 STAN,cuma itu yang bisa emak lakuin buat bantuin kalian,kalo ke anak2 non STAN ya harga normal mbak..he he”…Ya Alloh…begitu mulianya hati ibu ini, memang orang yang dimuliakan dengan harta yang melimpah belum tentau dikaruniai kemuliaan dan ketulusan hati seperti beliau ini yang hanya Ibu penjual nasi. Beliau sudah membantu kami meraih cita kami dengan menyediakan makanan untuk kami di pagi, siang dan malam hari dengan harga yang miring. Senyum selalu menghiasi wajahnya ketika menyambut kami yang akan makan diwarungnya, walaupun entah mungkin ada kegundahan dalam hatinya karena anak perempuannya (maaf) mempunyai penyakit keterbelakangan mental. Beliau mengajarkan kami arti sebuah ketulusan dan kesederhanaan…

Oh ya satu lagi, saya dan beberapa teman sering pinjam sepeda beliau untuk menuju ATM mengambil uang dan pernah sekali kami tanya mangga jenis apa yang ada disamping warungnya eh malah beliau memberi kami beberapa buah mangga itu (mangga bagi saya anak kos merupakan buah yang mewah dulu)…..^_^

terima kasih kepada adik kelas yang telah mengupload foto Ibu warung Ijo
dan untuk Ibu warung Ijo terima kasih jua atas ketulusannya....




Selengkapnya...

Muhasabah Pagi -Tentang sebuah Kesyukuran-

Pagi ini sungguh Alloh telah memberiku pelajaran yang amat sangat berharga akan arti sebuah kesyukuran.
Sebagaimana biasanya perjalanan menuju kantor harus melalui komplek perumahan polri di daerah pangadegan Jakarta selatan, dengan motor berplat warna merah yang artinya adalah pinjaman dari kantor kususuri jalanan pagi itu, awal ketika memasuki gerbang komplek perumahan polri tidak ada hal istimewa yang menarik perhatianku, hanya terlihat beberapa ibu-ibu mengerubuti tukang sayuran di pinggir jalan. Dengan santai kukendarai motor pinjaman ini, karena hari ini keberangkatanku ke kantor agak lebih pagi, hingga ketika keluar dari belokan kedua di komplek perumahan itu sebuah pemandangan yang mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang biasa namun tidak bagi diriku, didepanku terlihat seorang bapak yang sudah tua mendorong gerobak berjualan -yang mungkin Bubur Kacang Hijau- , dengan perlahan ia dorong gerobak dagangannya sembari sesekali memukulkan sendok ke mangkok kosong untuk menarik perhatian para calon pembelinya. Setelah melaluinya -karena beliau menuju kearah kebalikan denganku- hati ini langsung tersentak, dan lirih lisan ini berbisik “mengapa terkadang diri masih saja mengeluh, sedangkan diluran sana banyak orang bekerja sampai berpeluh?”

Ternyata pelajaran berharga ini tidak hanya disitu saja, ketika kupacu kuda besi pinjaman ini melewati belokan kekiri setelah stasiun cawang, kulihat seorang ibu bersama anaknya yang masih kecil dalam gendongannya berharap uluran para pengendara mobil atau motor yang lewat, kembali miris hati ini, dan bisikan hati kembali bergaung “Ya Alloh ampuni aku, jadikanku hamba-Mu yang bisa memberikan manfaat dan guna bagi orang lain”. Dan yang terakhir ketika akan melewati taman tebet kulihat seorang pak tua yang berjualan balon dipinggir jalan, dengan senyum menghiasi wajahnya ia terduduk di halte dekat situ -yang kutahu bahwa ia semalaman berjualan balon di pinggir jalan taman tebet- dan mungkin pagi ini ia akan pulang menemui keluarganya yang sedang menanti dirumah. Satu lagi hal yang membuatku merenung, setelah ku lewati ibu bersama anaknya yang berharap uluran tangan para pengendara dan sebelum kulihat pak tua yang sedang terduduk di halte taman tebet, perjalananku terhiasi oleh rumah yang boleh dikatakan mewah dengan pagar yang mungkin harganya sudah jutaan rupiah lengkap dengan mobil yang tidak hanya satu, itupun mobil yang termasuk golongan mobil mewah. Sungguh, miris hati ini, begitu njomplang kehidupan di ibukota ini, ketika berdiri rumah mewah ternyata dipinggiran kali ciliwung masih banyak rumah yang hanya berdinding kardus atau triplek tipis dengan atap seng bekas….Ah….sungguh naïf diri ini ketika masih saja merasa kurang, masih saja terdongak kepala ini melihat keatas. Ya Alloh ampuni hamba-Mu ini…

Pagi ini Alloh Subhanahu wa ta’ala memberikan pelajaran dengan cara yang sangat indah kepadaku, bukan lewat pendidikan di sebuah ruangan bernama kelas, bukan jua dalam halaqoh pengajian, namun dari sebuah perjalanan, Alloh menyuguhiku pemandangan yang kembali mengingatkanku dan menjadi sebuah pelajaran berharga akan arti sebuah kesyukuran. Bukankah dengan bersyukur Alloh akan menambahkan nikmat kepada kita? Dan nikmat itu tidak selalu berwujud materi, bisa nikmat sehat, keluarga yang harmonis, teman kantor yang baik, dan lain sebagainya, itu yang saya ketahui. Dan satu yang harus selalu dalam ingat dan pikiran kita, bahwa dalam hidup ini, segalanya adalah kepunyaan Alloh, kita hanya dititipi, diamanahi, untuk menjaga dan menggunakan apa yang telah Alloh titipkan kepada kita sesuai dengan yang telah disyariatkan-Nya.

Ya Alloh, Ya Rohman, Ya Rohim, ampuni hamba yang dhoif ini yang seringkali lupa untuk mensyukuri nikmat-Mu, jadikanlah hamba yang berlumuran dosa ini menjadi hamba-Mu yang pandai dalam mensyukuri nikmat-Mu….
Ya Alloh, Ya Ghoffar, Ya Kariim, pagi ini kuakui semua nikmat-Mu, begitu juga kuakui semua dosa-dosaku, ampunilah aku karena tiada yang dapat mengampuni kecuali Engkau…
Ya Alloh, Ya Dzaljalali wal ikrom angkatlah kekacauan yang melanda negeri ini, tunjukan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, karuniakanlah kepada negeri ini pemimpin yang amanah, yang adil, yang Engkau Cintai dan yang mencintai-Mu, yang senantiasa berpegang kepada Al-quran dan sunnah Rosul-Mu…Ya Alloh berkahilah dan ridhoilah setiap langkahku…mudahkanlah segala urusanku, karena tiada yang mudah kecuali Engkaulah yang memudahkan dan tiada yang susah kecuali Engkau pulalah yang memudahkan…Aamiin…


Jum'at, 13 November 2009
Pelajaran indah pada suatu pagi yang cerah


Selengkapnya...

Karenamu dan Untukmu (sebuah sajak kerinduan)

Puitis???
ah...akupun tak tahu dan tak yakin mengapa orang berkata begitu padaku
Apa karena susunan kata-kataku?
yang meloncat kesana kemari mencoba membentuk suatu harmoni?
Harmoni yang gambarkan suasana diri
Harmoni atas gejolak yang ada dihati

Romantis???
ini lagi...sungguh inipun ku tak tahu
yang kutahu sekarang ini kata-kata mudah saja terangkai
entah menjadi sajak ataupun puisi
walau kau katakan tiada punya arti
namun tidak begitu bagiku
ia akan selalu menyimpan suatu arti yang tersirat ataupun tersurat
dan kusadari cinta dan rindulah yang buatku begini

Cinta?
Rindu?
ya...ya...itu rasa...
rasa yang akhir-akhir ini menyelusup dalam hati

Hati...ya...Hati...
engkau tak bisa kubohongi
walau kuberusaha tuk mengenyampingkan rasa ini

Apakah itu semua sebuah kesalahan?
tidak!!! tidak!!! tegas hati ini seakan berucap
tidak!!! karena ku hanyalah manusia biasa
manusia yang butuh cinta
manusia yang terkadang terselimuti kabut kerinduan
Cinta yang mengharap ridho-Nya
Rindu yang ada karena rinduku pada-Nya

Ehm...
dengan helaan nafas yang terasa berat
berat karena masih menggelayut beban di hati
sudahlah...biarlah kuadukan masalahku ini pada-Nya
di syahdunya sepertiga malam kupanjatkan doa-doaku
dan kini yang kuingin hanyalah menulis dan terus menulis
menyusun kata yang berloncatan dalam pikir ini
menangkapnya satu persatu
lalu kususun dan kutaruh dalam sebuah wadah cerita

Cerita???
ya...cerita...
Cerita yang kelak kan ku bagi dengannya
dengan seorang insan yang bersamanya kunikmati keagungan cinta
seorang insan yang menghilangkan kabut kerinduan dihati
laksana cahya hangat sang mentari di pagi hari

Puitis? Romantis?
ada karenamu duhai Permata hatiku

(saat gejolak itu hadir kembali)



Selengkapnya...

Walau tak sempurna, kasih tulusmu kan tetap jadi hiasan hidupku

Seorang ikhwan dan akhwat menikah dengan presentasi acara pernikahan yang sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai akhwat begitu anggun dalam gaun putih jilbabnya (afwan karena gak boleh lihat, jadi kira-kira aja) dan pengantin ikhwan dalam beskap hitam dipadu dengan songkok muslim yang gagah. Pendeknya siapapun setuju mengatakan mereka pasangan yang idela dan serasi.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, ”Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. ”Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia”.

Suaminya setuju dan mereka mulai mamikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Pagi itu ketika sarapan (kebetulan hari libur), mereka siap mendiskusikannya. ”Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman. Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak ia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir. Sang istri terpana,”Maaf, apakah aku harus berhenti?”. ”Oh tidak, lanjutkan....” jawab suami masih dengan air matanya.

Lalu sang istri melanjutkan membaca semua yang terdaftar, kemudian melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia. ”Sekarang gantian ya, kau yang membacakan daftarmu”.

Dengan suara lembut suaminya berkata ”Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang”. Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serat isi hati suaminya. Bahwa suami telah menerima dirinya apa adanya, sangat tulus. Ia menunduk dan menangis...

Dalam hidup ini, kadang kita merasa dikecewakan, depresi, dan sakit hati dengan pasangan hidup kita. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesuklacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk dan menyakitkan, jika kita bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita?

Terimalah ia apa adanya. Terimalah kekurangannya dengan keikhlasan hati maka akan kita temukan cinta yang bersemi indah. Sesudahnya berupaya memperbaiki dan bukan menuntut untuk sempurna. Bukankah kita sendiri mempunyai kekurangan, mengapa kita sibuk menuntut istri untuk sempurna? Ada amanat yang harus kita emban ketika kita menikah. Ada ruang untuk saling berbagi. Ada ruang untuk saling memperbaiki. Dan bukan saling mengeluhkan, alih-alih menyebut-nyebut kekurangan.

Pahamilah kekhilafannya agar ia merasa ringan dalam memperbaiki, meski bukan berarti kita lantas membiarkan kesalahan. Berikanlah dukungan dan kehangatan kepadanya sehingga ia berbesar hati menghadapi tantangan-tantangan yang ada di depan. Tunjukkanlah bahwa kita memang sangat menghargainya, menerimanya dengan tulus, mau mengerti dan bersemangat mendampinginya

Hari ini, ketika kita bermimpi tentang sebuah pernikahan yang romantis sementara ikatan batin di antara kita dan pasangan begitu rapuh, sudahkah kita berterima kasih kepadanya? Sudahkah kita meminta maaf atas kesalahan kesalahan kita? Jika belum, mulailah dengan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan kita dan ungkapkan sebuah panggilan sayang untuknya. Mulailah dari yang paling mudah, hatta yang paling remeh atau kecil sekalipun. Mulailah dari yang paling kecil, demikian Ustaz Aa' berpesan. Little things mean a lot, demikian Ustaz Fauzil menambahkan. Agar cinta bersemi dalam keluarga kita, agar cinta senantiasa berbunga dalam kehidupan kita.

Masya Allah.
Subhanallah.
Alhamdulillahirabbil alamiin.
Wallahu alam bisshawab.

(bagi yang belum menikah tidak usah khawatir, jika engkau jaga risalah Allah adalah sebuah keniscayaan jika Allah kan berikan yang terbaik buat antum, sekali lagi terbaik dalam perspektif Allah, dan bukan perpektif kita)


disarikan dari sebuah artikel lama yang tersimpan di kompie dan "Agar Cinta Bersemi Indah" oleh M. Fauzil Adhim

Selengkapnya...